Bila pertanyaan ini ditanyakan kepada kita, mungkin masing-masing dari kita mempunyai jawaban tersendiri, yang bisa sama antar satu dengan yang lainnya, dan mungkin juga bisa berbeda, tergantung darimana kita menilainya dan mengasumsikan hal tersebut. Wallahu a’lam.

Tetapi, disini tampaknya sulit untuk dibahas pertanyaan tersebut. Mengapa demikian? Jawabannya, karena untuk menjawab suatu pertanyaan membutuhkan pengetahuan (baik ilmu syar’i maupun pengetahuan umum sebagai penunjang). Terlebih, permasalahan yang dibahas cukup sensitif, dikarenakan pro-kontra-nya berbagai macam pandangan tentang menabung uang di bank. Maksud penulis disini bukanlah untuk memojokkan ataupun merendahkan pihak-pihak yang terkait, yakni baik sebagai pemilik bank, maupun pegawai dan atau nasabah yang menyimpan uangnya di bank.

Oleh karena itu, penulis sebelumnya memohon ampunan Allah -Subhanahu wa Ta’ala- dan juga maaf dari para pembaca yang budiman, baik sebagai pihak terkait maupun tidak, apabila nantinya pada tulisan ini terdapat kesalahan, baik dalam pembahasan maupun dalam penulisan, sehingga ada dari para pembaca yang tersinggung ataupun merasa dirugikan. Jika memang hal itu benar terjadi, penulis sangat mengharapkan sikap lapang dada dari pembaca dalam menanggapinya, dan harap menghubungi penulis untuk berbicara (membahas) seputar kesalahan yang terjadi untuk mencari penyelasaian yang terbaik (tanpa ada dendam yang tersisa), dengan cara mengirim pesan terlebih dahulu ke alamat e-mail penulis (alasqalani@ymail.com).

PEMBAHASAN

Terlepas dari anggapan orang mengenai siapa yang salah dan siapa pula yang harus dimintai pertanggung jawabannya terhadap hilangya uang-uang para nasabah bank dengan cara pembobolan ATM (yang belakangan ini gencar diberitakan), maupun yang lainnya, sebenarnya ada juga hal yang tidak kalah penting dari itu. Yakni, apakah hikmah dibalik ini semua? Pernahkah kita berusaha menyadarinya, atau bahkan merenungkan hal tersebut?

Memang ada yang beranggapan, bahwa hal tersebut adalah taqdir dari Allah -Subhanahu wa Ta’ala-, tetapi tidak sedikit pula yang lupa akan hal itu seraya beranggapan, bahwa ini adalah kesalahan dari para korban yang kurang teliti dan berhati-hati, ada pula yang beranggapan, ini juga kesalahan dari pihak bank yang kurang memfasilitasi security (keamanan) bagi nasabah secara baik, atupun anggapan-anggapan lainnya. Tetapi, bukankah alangkah baiknya sebagai seorang manusia yang diberi kelebihan akal dan perasaan, kita berfikir matang terlebih dahulu sebelum hati kita berprasangka (sehingga tidak salah bertindak, baik dengan ucapan maupun perbuatan)?

Sering kita mendengar, “Tidak mungkin ada asap jika tidak ada api.” Ya, seperti yang sudah sama-sama kita ketahui: dimana ada akibat, tentulah ada sebabnya. Sehingga kalimat ini menjadi populer, yang sering didengung-dengungkan, “Ada sebab, ada akibat,” dan kalimat yang semisalnya. Tetapi, kebanyakan orang (mungkin juga termasuk penulis, selaku manusia biasa yang tak luput dari kekurangan) hanya bisa mengucapkannya tanpa mau merenungi sedikit maknanya.

Oleh sebab itu, dari sini mudah terlihat satu sisi dari kekurangan-kekurangan manusia, yang cenderung lebih mudah berprasangka tanpa memahami dan merenungi setiap apa yang diucapkan, baik oleh orang lain maupun dirinya sendiri; serta setiap apa yang dilihat, didengar dan diperbuat, sehingga menimbulkan kesan, bahwa dirinya (diri kita) tidak bersalah atau tidak terlalu bersalah.

Hal ini pulalah yang kadang tidak sering kita sadari. Yakni, terkait persoalan yang belakangan ini marak terjadi, salah satunya kasus pembobolan ATM nasabah bank oleh orang-orang yang keliru jalannya (dalam bekerja mencari penghasilan), sehingga membuat gencar pemberitaan di media-media.

Dalam hal ini mungkin ada beberapa pertanyaan, yang selayaknya kita sempatkan untuk memikirkan dan merenunginya, yakni:

1. Apa tujuan (niat) kita menabung uang di bank?

  • Apakah hanya karena semata-mata menyimpang uang kita agar aman dan terjaga (tanpa mengharapkan timbal balik yang lebih menguntungkan), dikarenakan ketidak mampuan dan kekhawatiran menyimpan uang sendiri?
  • Atau, adanya harapan (keinginan) untuk mendapatkan keamanan dalam penyimpanan uang, sekaligus menginginkan timbal balik lebih, sehingga uang kita bertambah menjadi lebih banyak dari uang yang disimpan sebelumnya?

2. Pernahkah kita mengetahui seluk beluk kegiatan (proses) perputaran uang di bank?

  • Apakah dapat terjerumus pada hal yang terlarang dalam syari’at?
  • Atau, hal tersebut sudahkah kita ketahui, sehingga bisa mencegah dari hal-hal yang terlarang dalam syari’at?

3. Jika kita telah mengetahuinya, apakah hal tersebut dibenarkan dalam syari’at?

  • Jika tidak, lalu, apakah kesalahan-kesalahan tersebut dapat berdampak buruk di dunia dan di akhirat?

4. Apakah bunga bank merupakan riba?

  • Jika ya, bagaimana sebenarnya hukum riba tersebut?
  • Apakah ada dalil-dalilnya dalam al Qur’an dan al Hadits?

5. Bagaimana cara kita bertaubat dari perbuatan tersebut?

Dari pertanyaan-pertanyaan di atas, hendaknya kita merenungkan dan berusaha mencari tahu mengenai hal-hal tersebut dengan belajar (ilmu syar’i) dan bertanya kepada ahli ilmu (orang-orang yang pandai dalam bidangnya, termasuk hukum-hukum syar’i yang berlandaskan pada al Qur’an al Karim dan al Hadits shahih di atas pemahaman para shahabat Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik).

Dengan cara seperti itulah, semoga Allah -Azza wa Jalla- menjaga diri dan agama kita, harta, kelauarga, serta segala yang kita cintai karena Allah -Ta’ala-.

Demikianlah yang dapat penulis bahas sedikit mengenai tema yang tertera di atas. Semoga kita semua dapat merenungkan dan memahaminya dengan baik, sehingga Allah -Azza wa Jalla- memberikan ash shirathal mustaqim (jalannya orang-orang lurus, tidak menyimpang) kepada kita, agar kita tidak termasuk orang yang dimurkai oleh Allah -Ta’ala- dan juga tidak termasuk adh dhallin (orang-orang yang tersesat). Allahumma amin.

Disini akan penulis akhiri dengan sedikit bantuan pengetahuan bagi para nasabah bank (yang tentunya menyimpan uangnya di bank dikarenakan terdesak dan ketidak mampuannya menyimpan secara pribadi, tanpa mengharapkan timbal balik lebih berupa keuntungan bertambahnya saldo tabungan yang melebihi jumlah awal yang ditabung atau disimpan di bank, seperti pada point pertanyaan nomor 1 awal pada pembahasan singkat di atas), yang pengetahuan tersebut dapat dibaca di http://www.indocisc.com/.