Karyawan di penukaran valuta asing di Kawasan Niaga Terpadu Sudirman, Jakarta, menghitung lembaran uang dollar AS.

KUTA, KOMPAS.com — Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartardi A Sarwono mengatakan, rendahnya infalsi pada awal tahun ini juga dipengaruhi oleh penguatan nilai tukar rupiah.

“Penguatan nilai tukar rupiah membantu menahan laju inflasi, terutama yang disebabkan oleh inflasi barang-barang impor,” kata Hartardi dalam konferensi persi di Kuta, Bali, Senin (12/4/2010).

Menurut dia, penguatan rupiah ini lebih disebabkan oleh kondisi makroekonomi yang bagus dan ditunjang pemulihan ekonomi global yang masih lambat sehingga mendorong modal masuk masih besar.

Target inflasi

Hartardi menilai, target inflasi Indonesia sebesar 5 plus minus 1 persen tahun ini dan tahun 2011 masih dianggap realistis. “Target inflasi 5 plus minus 1 persen masih realistis hingga tahun depan,” katanya.

Menurut dia, target inflasi ini masih memperhitungkan terhadap target pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen hingga tahun 2014.

Hartardi mengakui bahwa inflasi Indonesia di atas rata-rata regional yang saat ini berada di kisaran 2-3 persen.

Untuk 2012, kata Hartardi, BI menargetkan inflasi 4 plus minus 1 persen untuk menyeimbangkan dengan regional.

Penurunan target inflasi tersebut dapat menjaga daya beli masyarakat dan daya saing dengan industri regional.