Bicara mengenai bank, masih ingatkah kamu tentang kebiasaan menabung semasa kecil? Tentang uang yang kamu selipkan dibawah kasur? Atau uang yang sengaja kamu sisihkan lalu kamu masukkan di dalam celengan ayammu? Kenangan itu membuat saya tersenyum saat mengingatnya. Ya, begitulah cara yang sengaja ditanamkan oleh orang tua saya sejak kecil untuk berhemat dengan menabung.

Dulu saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya dibelikan sebuah celengan ayam besar yang terbuat dari tanah liat. Semenjak saat itu, setiap ada uang receh, uang saku sekolah yang masih tersisa, atau jika dikasih dari orang lain, saya tak segan-segan untuk menaruhnya didalam celengan. Dan hal yang saya sukai setelah masukkin uang ke celengan pasti deh saya goyang-goyang tuh celengan, buat ngecek udah berat atau belum isinya. (namanya juga anak sd. hehe). Bulan demi bulan silih berganti, semakin berat celengan ayam yang saya punya, semakin semangat lagi saya menabung. Hingga suatu ketika, celengan yang telah berat itu hilang entah kemana. Saya dan keluarga sempat kebingungan mencarinya karena saya ingat benar bahwa celengan itu ada di dalam kamar. Singkat cerita setelah lelah mencari ternyata tetangga saya bilang bahwa tamu yang tak dikenal tadi yang berkunjung ke rumah saya membawa sebuah kantong pelastik besar yang ia tenteng saat keluar dari rumah saya. Pantes aja tuh orang kabur pas dibuatin minum.

Nah, dari pengalaman saya tadi saya pun belajar bahwa kemanan merupakan prioritas utama dalam kehidupan. Kini seiring perkembangan jaman, gaya hidup menabung sendiri di rumah dengan cara celengan ayam atau apapun sudah mulai ditinggalkan dan beralih ke Bank. Karena ya itu tadi, keamanan ya nomer 1.

Sebagaimana pengertian bank menurut UU No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan menyebutkan: ”Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya, dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat banyak”.

“Bank sudah menjadi bagian hidup dari masyarakat.”

Dengan perkembangan perbankan yang semakin canggih, kita bisa menikmati berbagai fasilitas yang tersedia. Seperti KPR, payment point, ATM, Kartu Kredit, Mobile banking, Internet Banking dan fasilitas lainnya seolah memanjakan kita untuk memenuhi semua kebutuhan. Kapan pun, dimanapun kita memerlukan dana tunai dari tabungan kita misalnya, kita tinggal menggesek ATM yang kita punya. Kalau mau belanja online, transfer uang, bayar tagihan kita bisa gunakan fasilitas Mobile Banking atau Internet Banking. Bukan hanya itu saja, kini pihak bank bahkan tengah bersaing ketat antar baik lain dalam meningkatkan baik kualitas, produk, dan juga pelayanannya. Hal ini jelas memberikan keuntungan bagi para nasabah. Karena tak jarang bank berlomba-lomba untuk menaikkan bunga, memberikan hadiah bagi nasabah yang beruntung, memperbaiki kinerja dan fasilitas-fasilitas lainnya sehingga nasabah menjadi lebih nyaman .

Namun sebenarnya jika kita menabung di Bank, tidak 100 % aman juga. Contohnya saja jika kita menabung uang di Bank lalu bank tersebut bangkrut. Nah loh, gimana tuh? Kira-kira dibalikin ga uangnya? Menjawab kemungkinan tersebut, maka pemerintah pun mendirikan LPS (Lembaga Penjamin Simpanan Bank).  LPS adalah lembaga independen yang berfungsi menjamin simpanan nasabah bank dan turut aktif dalam menjaga stabilitas sistem perbankan sesuai kewenangannya. LPS mulai beroperasi secara penuh sejak tanggal 22 September 2005.

LPS menjamin simpanan nasabah bank yang berbentuk tabungan, deposito, giro, sertifikat deposito, dan bentuk lain yang dipersamakan dengan itu. Namun pada perbankan syariah, LPS juga menjamin simpanan nasabah bank syariah yang berbentuk giro wadiah, tabungan wadiah, tabungan mudharabah, dan deposito mudharabah. Layaknya asuransi, bank-bank yang menjadi anggota LPS harus membayar kontribusi kepesertaan dan premi penjaminan.

Sejak tanggal 13 Oktober 2008, Nilai simpanan yang dijamin oleh LPS paling tinggi sebesar Rp 2 milyar per nasabah per bank . Apabila seorang nasabah mempunyai beberapa rekening simpanan pada satu bank, maka untuk menghitung simpanan yang dijamin, saldo seluruh rekening tersebut dijumlahkan. LPS hanya akan menjamin pembayaran simpanan nasabah tersebut sampai jumlah Rp2 milyar. Jadi, untuk para nasabah yang jumlah simpanannya di atas Rp2 milyar akan diselesaikan oleh Tim Likuidasi berdasarkan hasil likuidasi kekayaan bank.

Jadi saran saya, menabunglah di Bank yang sudah terdaftar menjadi anggota dalam LPS. Selain itu, jika kita memiliki saldo yang lebih dari 2 MILYAR, kita pun bisa memiliki lebih dari satu tabungan di bank yang berbeda. Hal ini untuk mengurangi resiko dan membuat kita lebih aman.

Dengan adanya LPS, nabung di Bank menjadi semakin aman dan nyaman.
Tinggalkan kebiasaan lama dan budayakan menabung di Bank.
Salam hangat dari penghuni:  mychocochips.blogspot.com