Analisis Pengaruh Rasio-rasio Keuangan Terhadap Kinerja Bank Umum di Indonesia

By CHRISTIAN RAMOS K | April 13, 2012

Bank merupakan industri yang kegiatan utamanya adalah menghimpun dana dari masyarakat kemudian menyalurkannya dengan tujuan untuk memperoleh pendapatan. Oleh karena itu penting bagi bank untuk menjaga kepercayaan masyarakat sebab kegiatan usahanya mengandalkan kepercayaan masyarakat.

Perkembangan di dunia perbankan yang sangat pesat serta tingkat kompleksitas yang tinggi dapat berpengaruh terhadap performa suatu bank. Kompleksitas usaha perbankan yang tinggi dapat meningkatkan resiko yang dihadapi oleh bank-bank yang ada di Indonesia. Permasalahan perbankan di Indonesia antara lain disebabkan depresiasi rupiah, peningkatan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sehingga menyebabkan meningkatnya kredit bermasalah. Lemahnya kondisi internal bank seperti manajemen yang kurang memadai, pemberian kredit kepada kelompok atau group usaha sendiri serta modal yang tidak dapat mengcover terhadap resiko-resiko yang dihadapi oleh bank tersebut menyebabkan kinerja bank menurun.

Penurunan kinerja bank dapat menurunkan pula kepercayaan masyarakat. Pemeliharaan kesehatan bank antara lain dilakukan dengan tetap menjaga likuiditasnya sehingga bank dapat memenuhi kewajiban kepada semua pihak yang menarik atau mencairkan simpanannya sewaktu-waktu. Kesiapan memenuhi kewajiban setiap saat ini, menjadi semakin penting artinya mengingat peranan bank sebagai lembaga yang berfungsi memperlancar lalu lintas pembayaran. Di samping faktor likuiditas, keberhasilan usaha bank juga ditentukan oleh kesanggupan para pengelola dalam menjaga rahasia keuangan nasabah yang dipercayakan kepadanya serta keamanan atas uang atau asset lainnya yang dititipkan pada bank.

Pada penulisan saya kali ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh rasio keuangan Capital Adequacy Ratio (CAR), Biaya Operasi dibanding Pendapatan Operasi (BOPO), dan Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap kinerja bank yang diukur dengan Return On Asset (ROA).

Analisis rasio merupakan salah satu alat analisis keuangan yang banyak digunakan. Rasio merupakan alat untuk menyediakan data terhadap kondisi yang mendasari. Rasio merupakan salah satu titik awal, bukan titik akhir. Rasio yang diinterprestasikan dengan tepat mengidentifikasi area yang memerlukan investigasi lebih lanjut. Analisa rasio dapat mengungkapkan hubungan penting dan menjadi dasar perbandingan dalam menemukan  kondisi dan tren yang sulit untuk dideteksi dengan mempelajari masing-masing komponen yang membentuk rasio.

Return On Assets (ROA)

ROA merupakan kemampuan dari modal yang diinvestasikan ke dalam seluruh aktiva

perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. ROA menggunakan laba sebagai salah satu cara untuk

menilai efektivitas dalam penggunaan aktiva perusahaan dalam menghasilkan laba. Semakin tinggi

laba yang dihasilkan, maka semakin tinggi pula ROA, hal itu berarti bahwa perusahaan semakin

efektif dalam penggunaan aktiva untuk menghasilkan keuntungan. Berdasarkan data dari Statistik Perbankan Indonesia tentang kinerja bank umum bulan Januari 2012 diperoleh bahwa ROA nya sebesar 3,76% sedangkan pada bulan Desember 2011 sebesar 3,03% yang didapat berdasarkan perbandingan laba sebelum pajak dan rata-rata total assets. Informasi mengenai kinerja sangat bermanfaat bagi pengguna laporan keuangan. Bagi kelompok investor, kreditor maupun masyarakat umum menginginkan investasi mereka yang ditanamkan ke bank perlu untuk mengetahui kinerja bank tersebut. Pengembalian atas investasi modal berguna bagi evaluasi manajemen, analisis profitabilitas, peramalan laba, serta perencanaan dan pengendalian.

Capital Adequacy Ratio (CAR)

CAR adalah rasio atau perbandingan antara modal bank dengan aktiva tertimbang menurut resiko (ATMR). CAR menjadi pedoman bank dalam melakukan ekspansi di bidang perkreditan. Dalam prakteknya perhitungan CAR yang oleh Bank Indonesia disebut Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank (KPMM) tidaklah sederhana. KPMM adalah perbandingan antara Modal dengan Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR). Baik ATMR maupun Modal Bank memerlukan rincian dan kesamaan pengertian apa yang masuk sebagai komponen untuk menghitung ATMR dan bagaimana menghitungnya. Berdasarkan data dari Statistik Perbankan Indonesia tentang kinerja bank umum bulan Januari 2012 diperoleh bahwa CAR nya sebesar 18,41% sedangkan pada bulan Desember 2011 sebesar 16,05%.

Biaya Operasi Dibanding Dengan Pendapatan Operasi (BOPO)

BOPO merupakan rasio antara biaya operasi terhadap pendapatan operasi. Biaya operasi merupakan biaya yang dikeluarkan oleh bank dalam rangka menjalankan aktivitas usaha utamanya seperti biaya bunga, biaya pemasaran, biaya tenaga kerja dan biaya operasi lainnya. Pendapatan operasi merupakan pendapatan utama bank yaitu pendapatan yang diperoleh dari penempatan dana dalam bentuk kredit dan pendapatan operasi lainnya. Semakin kecil BOPO menunjukkan semakin efisien bank dalam menjalankan aktivitas usahanya. Bank yang sehat rasio BOPO-nya kurang dari satu sebaliknya bank yang kurang sehat, rasio BOPO-nya lebih dari satu. Menurut ketentuan Bank Indonesia efisiensi operasi diukur dengan BOPO. Berdasarkan data dari Statistik Perbankan Indonesia tentang kinerja bank umum bulan Januari 2012 diperoleh bahwa BOPO nya sebesar 129,7% atau 1,29 sedangkan pada bulan Desember 2011 sebesar 85,41% atau 0,85.

Loan To Deposit Ratio (LDR)

LDR merupakan rasio yang mengukur kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban keuangan yang harus dipenuhi. Kewajiban tersebut berupa call money yang harus dipenuhi pada saat adanya kewajiban kliring, dimana pemenuhannya dilakukan dari aktiva lancar yang dimiliki perusahaan. LDR dihitung dari perbandingan antara total kredit dengan dana pihak ketiga. Total kredit yang dimaksud adalah kredit yang diberikan kepada pihak ketiga (tidak termasuk kredit kepada bank lain). Dana pihak ketiga yang dimaksud yaitu antara lain giro, tabungan dan deposito (tidak termasuk antarbank). Standar terbaik LDR adalah diatas 85%. Untuk dapat memperoleh LDR yang optimum, bank tetap harus menjaga NPL. Berdasarkan data dari Statistik Perbankan Indonesia tentang kinerja bank umum bulan Januari 2012 diperoleh bahwa LDR nya sebesar 78,58%  sedangkan pada bulan Desember 2011 sebesar 78,78%.

Berdasarkan perhitungan terhadap ROA, CAR, BOPO, dan LDR maka dapat diambil simpulan sebagai berikut:

  1. CAR pada bulan Januari 2012 mengalami kenaikan 2,36% menjadi 18,41 hal itu menunjukkan bahwa CAR tersebut mempunyai peluang untuk memberikan kredit. Dengan CAR yang cukup atau memenuhi kententuan, bank tersebut dapat beroperasi sehingga terciptalah laba. Dengan kata lain semakin tinggi CAR semakin baik kinerja suatu bank. Penyaluran kredit yang optimal, dengan asumsi tidak terjadi macet akan menaikkan laba yang akhirnya akan meningkatkan ROA.
  2. BOPO pada bulan Januari 2012 mengalami kenaikan 0.44 menjadi 1,29 hal itu menunjukan bahwa BOPO pada bulan tersebut kurang sehat, sedangkan pada bulan Desember 2011 BOPO nya sehat karena memiliki nilai 0,85.
  3. LDR pada bulan Januari 2012 mengalami penurunan 0,2% menjadi 78,58% hal itu menunjukkan LDR tersebut kurang baik karena Standar LDR yang baik adalah 85% sampai dengan 110%. Oleh karena itu pihak manajemen harus dapat mengelola dana yang dihimpun dari  masyarakat untuk kemudian disalurkan kembali dalam bentuk kredit.

Referensi:

Bank Indonesia. 2012. Statistik Perbankan Indonesia Vol 10 No 2 Januari 2012. http://www.bi.go.id/web/id/Statistik/Statistik+Perbankan/Statistik+Perbankan+Indonesia/

Prasnanugraha Ponttie. 2007. Analisis Pengaruh Rasio-rasio Keuangan Terhadap Kinerja Bank Umum di Indonesia. http://eprints.undip.ac.id/17628/1/Ponttie_Prasnanugraha.pdf

Topics: Artikel | No Comments »

Leave a Reply

Security Code:

RSS Rumah Pena Gunadarma

Komentar Terbaru

Tulisan Terbaru

Categories

Blogroll

Search Engine

Universitas Gunadarma

Blog Komunitas Perbankan, Universitas Gunadarma - Bank DKI, 2008